Postingan

Menangisi Yang Tak Bisa Dibela

 Tiga hari ini dunia terasa bergeser. Angin berembus lebih kencang, udara menggigit lebih dingin, dan sebuah sesak datang berulang tanpa aba-aba. Dalam tiga hari itu, aku kerap terhenti di tengah aktivitas—terdiam, termenung—terseret kembali ke pagi cerah ketika kabar kelam itu tiba. Kabar itu datang dari seorang teman SMA kita. Dengan suara yang nyaris tak berintonasi, ia mengatakan bahwa kamu terdakwa sebagai pelaku kejahatan. Seketika aku membeku, lidahku kelu, pikiranku tersendat—tak sanggup mencerna kalimat yang barusan melintas di udara. Kamu? Yang selama ini menjadi tempatku pulang dalam cerita? Yang duduk di sampingku ketika dunia terasa terlalu berat? Yang menyapa semua orang dengan keramahan yang tak pernah tampak dibuat-buat? Segalanya runtuh perlahan, seperti bangunan yang digerogoti dari dalam. Berita tentangmu menjalar cepat—melompat dari grup alumni ke linimasa media sosial. Orang-orang bergumam, berteriak, menghardik, bahkan melafalkan doa-doa kematian untukmu. Kata...
Postingan terbaru