Langsung ke konten utama

Menangisi Yang Tak Bisa Dibela

 Tiga hari ini dunia terasa bergeser. Angin berembus lebih kencang, udara menggigit lebih dingin, dan sebuah sesak datang berulang tanpa aba-aba. Dalam tiga hari itu, aku kerap terhenti di tengah aktivitas—terdiam, termenung—terseret kembali ke pagi cerah ketika kabar kelam itu tiba.

Kabar itu datang dari seorang teman SMA kita. Dengan suara yang nyaris tak berintonasi, ia mengatakan bahwa kamu terdakwa sebagai pelaku kejahatan. Seketika aku membeku, lidahku kelu, pikiranku tersendat—tak sanggup mencerna kalimat yang barusan melintas di udara.

Kamu?

Yang selama ini menjadi tempatku pulang dalam cerita?

Yang duduk di sampingku ketika dunia terasa terlalu berat?

Yang menyapa semua orang dengan keramahan yang tak pernah tampak dibuat-buat?

Segalanya runtuh perlahan, seperti bangunan yang digerogoti dari dalam. Berita tentangmu menjalar cepat—melompat dari grup alumni ke linimasa media sosial. Orang-orang bergumam, berteriak, menghardik, bahkan melafalkan doa-doa kematian untukmu. Kata-kata kasar beterbangan seperti serpihan kaca.

Dan aku berdiri di tengahnya.

Diam.

Aku tak tahu.

Sungguh, aku tak tahu.

Atau mungkin aku hanya terlalu takut untuk tahu.

Sejak hari itu, ingatanku kerap berkhianat. Ia menyeretku ke tahun-tahun silam—saat perkenalan pertama, tawa yang masih canggung, percakapan-percakapan panjang yang perlahan menjelma keakraban. Waktu melaju, dan kita tumbuh menjadi sahabat, bukan hanya berbagi tawa, tetapi juga saling menampung duka.

Semua itu berputar seperti gulungan film lama.

Lalu berhenti.

Layarnya gelap.

Dan kisah indah itu tamat.

Perkara ini terasa seperti hari berpulangmu. Bukan bagi tubuhmu, melainkan bagi sosok baik yang selama ini kukenal. Sosok yang dipercayai banyak orang sebelum tiga hari kemarin. Setiap gunjingan tentangmu terdengar seperti doa belasungkawa, dan setiap umpatan seperti sorak-sorai atas kematian yang dirayakan diam-diam.

Sekali lagi, aku hanya mampu membisu.

Aku tak tahu harus berdiri di mana, harus berkata apa, harus membela siapa.

Kesedihan menumpuk tanpa bentuk. Air mataku menipis setelah berhari-hari menangisimu. Rasanya seperti berkabung. Seperti kehilangan sesuatu yang tak bisa dikuburkan. Seperti ditinggalkan oleh seseorang yang secara fisik masih ada, namun tak lagi sama.

Jasadmu masih berjalan di dunia ini.

Jiwamu pun masih bernapas.

Namun semua ini terasa seakan dirimu telah mati. 

Sosokmu yang selama ini kukenal, mati.   






NB: Tulisan ini bukan bentuk kepedulian terhadap pelaku. Pelaku tetap bersalah dan harus bertanggungjawab serta menerima ganjarannya. Ini hanya bentuk kesedihan dan tangisan bagi diri sendiri sebagai seorang teman yang merasa ditinggalkan.

Komentar